Apa arti rumah? Mungkin semua orang akan menjawab, "Rumah adalah tempat berlindung dari dinginnya hujan dan panasnya matahari." Tapi tidak begitu dengan Raffa. Menurutnya, rumah punya artian lain.

   "Rumah itu punya banyak definisi," ucap Raffa kala adiknya, Naras, iseng menanyakan apa arti rumah. "Tempat kita tinggal bisa disebut rumah. Tapi bukan cuma itu. Rumah nggak harus selalu berbentuk bangunan."

   "Kalau nggak berbentuk bangunan, nanti kehujanan dan kepanasan dong?"

   Raffa terkekeh gemas melihat Naras menggigit ujung pensilnya. Sebuah
kebiasaan jika Naras sedang bingung. Raffa sebenarnya tidak berniat melanjutkan pembahasan rumah. Karena itu hanya pertanyaan spontan yang terlontar dari Naras. Tapi Naras sudah terlanjur penasaran dengan
jawaban yang Raffa berikan. Maka ia memaksa kakaknya untuk menjelaskan lebih rinci lagi.

   "Rumah itu hal yang bisa memberikan kita sebuah rasa nyaman untuk melampiaskan semuanya. Kita sedih, marah, kecewa atau bahkan senang bisa kita bagi dengan rumah itu. Bisa jadi, bukan hanya tempat. Tapi
sesuatu atau bahkan seseorang bisa kita jadikan rumah."

   "Contohnya?"

   Raffa memencet hidung Naras agak kencang. Membuat Naras meringis kesakitan. "Kok jadi kayak wawancara gini, sih."

   "Habisnya jawaban Kak Raffa bikin aku penasaran!"

   Keadaan hening sebentar karena Raffa tidak melanjutkan perkataannya. Naras juga memilih diam menunggu Raffa memulai terlebih dahulu.

   "Misal kita punya sahabat dekat. Semua pasti kita ceritakan sama dia. Mau itu cerita yang bahagia, sedih, atau bahkan hal konyol. Kalau sama dia, kita selalu jadi diri kita sendiri. Rasanya pasti nyaman, 'kan? Orang itu bisa
disebut rumah. Yang bisa bikin kita senang, yang mau nemenin kita sedih, dia juga rumah. Atau ada istilah lainnya sandaran dan tumpuan."

   Naras mengangguk-anggukkan kepalanya. Mencoba mencerna semua ucapan Raffa. Menurut Naras, ucapan Raffa agak berbelit-belit. Dan artinya juga susah dimengerti. Padahal tinggal bilang, "Rumah itu tempat, sesuatu atau seseorang yang bisa kita jadikan sandaran dan tumpuan."

   Melihat adiknya hanya diam, Raffa mengerti jika Naras kebingungan. Maka ia melanjutkan ucapannya, "Dunia ini luas, Naras. Begitupun dengan bahasa dan kiasannya. Jangan mengartikan satu kata dengan satu patokan.
Karena ternyata hanya dalam satu kata bisa tersimpan seribu makna. Ngerti, 'kan, Adek?"
Raffa mengambil kertas milik Naras yang tergeletak. Tak lupa ia juga mengambil pensil yang sedari tadi Naras pegang tanpa digunakan untuk menulis. Raffa menulis sebuah kalimat dengan huruf besar-besar.
Bertuliskan, "RUMAH ITU TEMPAT PULANG."

   "Mau sejauh apapun kamu berkelana ke dunia luar, jangan lupa pulang. Karena kamu punya rumah."

   Naras tersenyum lebar. "Kalau begitu, rumah Naras itu Kak Raffa!"

   "Iya, boleh." Raffa mengusap rambut Naras. Ikut tertular senyum lebar dari Naras.

   "Berarti Kak Raffa nggak boleh pergi, nanti rumah Naras hilang."

                                       ***
   Air mata keluar begitu saja tanpa bisa Naras kendalikan. Semua memori tentang Raffa muncul begitu saja. Tentang hari dimana ia menanyakan apa arti rumah. Tentang Raffa yang katanya siap menjadi rumah bagi Naras.
Semua itu terjadi dua tahun lalu. Sebulan sebelum kepergian Raffa.

   Raffa meninggal karena dibunuh oleh temannya di rumahnya sendiri. Saat itu ia dan satu temannya berniat belajar bersama. Tapi nyatanya, temannya sudah lama menyimpan dendam pada Raffa karena Raffa selalu mendapat ranking diatasnya. Sedangkan teman Raffa tersebut dituntut harus mendapat juara. Jika tidak, ia akan dihukum habis-habisan oleh orangtuanya.

   Sebuah nasib sial bagi Raffa. Keadaan rumah yang kosong membuat niat temannya untuk membalaskam dendam semakin menggebu. Mulanya hanya saling pukul. Tapi hal itu terjadi di lantai atas. Raffa terpojok, tidak sengaja tergelincir dari tangga. Raffa meninggal karena kekurangan banyak darah di kepalanya.

   Orangtua Raffa serta Naras sepakat untuk meninggalkan rumah itu karena trauma. Hari ini mereka datang kembali untuk menggenang tepat dua tahun kepergian Raffa. Naras sangat kecewa. Bukan pada Raffa, tapi pada takdir yang diberikan untuknya. Raffa pergi, artinya rumahnya juga runtuh. Rumah yang katanya
tempat untuk pulang itu sudah tidak ada. Semuanya gugur bersama dengan kenangannya.