"Seandainya ini hari terakhir semua orang hidup di dunia, tuliskan nama orang yang kamu inginkan berada di sisi kamu selama sisa waktu tersebut, beserta alasannya."

Keadaan di kelas sangat ramai karena tugas dari guru mata pelajaran Bimbingan Konseling. Semua orang di kelas terbagi menjadi tiga kubu. Kubu pertama, yang terang-terangan bilang tentu saja orangtua-lah jawabannya. Kubu kedua, malu-malu berharap kalau menjawab pacar juga tidak akan menjadi anak durhaka.

Lalu kubu terakhir?

Yaitu orang-orang yang kebingungan. Entah harus menjawab siapa, belum lagi harus menjelaskan alasannya. 

Aku termasuk kubu terakhir.

Sudah tiga tahun aku hidup dengan Tanteku. Walaupun begitu, aku tidak begitu akrab dengannya. Dalam sehari dapat terhitung berapa kali aku mengobrol dengannya. Mentok-mentok kami akan membahas tentang urusan sekolahku karena beberapa bulan lagi aku akan lulus.

Jangan harap aku akan menulis nama sahabatku, dia juga pasti tidak akan mengingatku.

"Sudahlah, Rum. Aku kelupaan. Toh aku juga sudah menuliskan namamu, 'kan? Nih, kalau kamu nggak percaya."

Aku mengerutkan alis membaca catatan milik Naya—sahabat yang kusebutkan sebelumnya. Ia menunjukkannya di jalan sepulang sekolah. Kalau aku tidak berperasaan, sudah kulempar buku catatan Naya ke tengah jalan, biar saja digeleng motor atau truk sekalian. Tega sekali ia menuliskan namaku di urutan paling akhir. Dia menuliskan orangtuanya, pacarnya, baru aku.

Padahal aku yang membantu ia berkenalan dengan pacar yang baru seminggu itu.

"Aku main ke rumahmu, ya."

"Mau apa?"

"Main lah! Kenapa kamu kayak nggak suka begitu? Jangan-jangan Tantemu galak, ya?!"

Aku menoyor kepala Naya pelan. Walaupun aku hanya sebatas keponakan, tapi Tante Rina selalu mengurusku dengan ikhlas. Ia membiayai sekolahku sampai saat ini. Terkadang jika ada uang lebih, Tante memperbolehkanku membeli baju baru atau apapun yang kusuka. Yah, kami memang hanya kurang komunikasi.

Akhirnya, aku mengajak Naya ke rumah. Tante menyambut Naya dengan riang. Saat akan masuk kamar, aku berpapasan dengan anak laki-laki yang khas dengan kaki yang luka disana-sini. Pertanda keseringan main di sawah. 

"Tumben Mbak bawa temannya ke rumah."

"Panggil aku Kakak."

Si anak laki-laki tersebut bukannya menurut, malah memasang wajah tengil sambil berucap, "Tahu, nggak? Mbak kalau tidur suka jatuh sampai ke kolong kasur."

Karena kesal, aku menjewer telinga anak laki-laki tersebut. Ia teriak karena jeweranku memang lumayan kencang. Tante Rina datang sambil menghela napas, seolah pemandangan di depannya sudah biasa.

"Azka, jangan ganggu kakaknya terus. Katanya mau main bola? Kak Arum, sudah ya lepasin."

Aku melepas jeweranku. Azka sempat-sempatnya memeletkan lidah sebelum kabur meninggalkanku yang masih kesal.

"Keponakanmu lucu." Naya tidak berhenti tertawa bahkan saat sudah di kamarku. "Tantemu juga beneran nggak galak ternyata. Mana suaranya halus banget."

"Memang nggak galak," balasku. Sementara aku berbaring di kasur, Naya duduk di meja belajar sambil melihat foto-fotoku. "Aku mau tidur sebentar. Kalau bosan, kamu baca buku aja."

"Buku yang ini boleh?"

Naya memperlihatkan buku berwarna coklat kayu. Walaupun tulisannya sudah pudar, namun masih dapat terbaca dengan jelas judul yang ditulis tangan itu.

Buku Harian Mas dan Adik.

Buku itu ... kenapa aku bisa melupakannya?

Aku bangkit dari kasur, tanpa sadar merebut buku itu dengan kasar dari genggaman Naya. 

"Apasih? Itu novel, 'kan? Kalau buku sejarah aku nggak bisa baca. Bikin bosan."

"Ini ...," napasku tiba-tiba tidak beraturan. "Buku catatan."

Aku membuka halaman pertama buku tersebut, Naya ikut membaca di sebelahku. 

Untuk Arumi Anindita,
Mungkin saat kamu baca catatan ini, kamu sudah dewasa. Sudah bukan adik kecil Mas yang merengek minta coklat kalau Mas lupa jemput. Bukan Adik yang nggak mau lepas dari Mas waktu demam tinggi. Tapi Adik yang tetap senyum walau baca catatan ini sendirian. Kalau Adik baca sambil nangis, Mas bakal kecewa banget. Mulai dari sini, Adik bakal baca banyak hal yang Mas tulis selama hidup bersama Adik. Maka, Mas bakal sebut catatan ini sebagai 'Buku Harian Mas dan Adik'.

Ranu Atmaja,
Yogyakarta, 3 Januari 2022.

Refleks aku melihat kalender. Sekarang tanggal 10 Februari 2025. Baru tiga tahun berlalu, kenapa aku bisa selupa ini?

"Kamu kok nggak cerita pernah punya kakak?"

Bagaimana aku bisa cerita? Aku saja sempat lupa dengan keberadaan buku ini. Padahal ini buku yang sangat berharga.

"Boleh aku lanjutkan bacanya?"

Setelah menyerahkan buku itu pada Naya, aku mundur dan duduk di pinggir kasur. Ingatanku seperti terlempar kembali ke masa lalu. 

Aku punya seorang kakak. Sebelum tinggal dengan Tante Rina, aku hanya tinggal berdua dengan Mas Ranu. Ayahku meninggal sejak aku umur dua tahun. Lalu untuk menghidupi keluarga, Ibu bekerja di luar negeri saat umurku tujuh tahun. Sejak saat itu Mas yang mengurusku. Membuatkan makanan, menyiapkan pakaian, bahkan membawaku ke puskesmas terdekat seorang diri saat aku sedang sakit. Usia kami selisih 6 tahun. 

Saat umur 17 tahun, yang katanya waktu dimana semua orang bersenang-senang memasuki tangga kedewasaan, Mas masih sibuk mencarikan pasangan kaos kakiku yang hilang. Saat hari terakhir ujian, teman sekelasnya pergi nongkrong sebagai perayaan karena sudah terbebas dari masa-masa sulit, Mas justru langsung lari pulang karena tetangga kami menghubungi Mas bahwa aku jatuh dari perosotan.

Mas Ranu sudah banyak merelakan waktunya untukku, tapi aku bahkan tidak pernah repot menyisakan waktu hanya untuk mengingatnya. 

"Mas Ranu keren, ya."

Suara Naya membuatku tersadar kembali ke masa kini. Ia sudah menutup buku catatan tadi. 

"Sekarang dia dimana? Sudah kerja?"

Bagaimana aku bisa melupakan cerita Mas dan aku dulu?

Mungkin, karena aku terlalu sakit. Aku tidak mau menerima kenyataan. Aku berusaha melupakannya, bersikap dari awal aku memang sendiri.

"Mas ... sudah pergi."

Naya berdiri, lalu ikut duduk di sampingku. Ia mendekatkan diri ke arahku. Dengan mata berbinar, ia bertanya, "Kemana? Ke luar negeri, ya? Jepang atau Amerika?"

Aku mengabaikan Naya yang semakin penasaran. Beralih menatap langit sore dari balik jendela kamar. Tanpa sadar, aku tersenyum karena mengingat Mas sangat suka matahari terbenam.

Mungkin, memang awalnya aku terlalu sakit sampai tidak bisa menerima. Bahwa Mas yang baik hati juga akan meninggalkanku. Hanya saja sisa waktu Mas yang terlalu cepat. 

Mas Ranu mengidap Thalassemia, penyakit turunan dari Ayah. Entah Mas yang tidak ingin merepotkan orang sekitar, jadi tidak pernah mau bilang. Atau memang gejalanya yang telat muncul. Sejak lulus sekolah, Mas sering sakit-sakitan. Mas selalu bilang, "Nggak apa-apa, nanti juga sembuh sendiri." Lalu akan mengalihkan obrolan dengan bertanya mengenai sekolahku. Aku juga tidak pernah mencari tahu lebih lanjut. Yang kutahu hanya bagaimana bersikap menjadi adik kecil yang manja. Penyakit Mas baru diketahui saat umur 20 tahun. Saat itu aku sudah 14 tahun, dan sudah cukup mengerti saat Tante Rina bilang kalau Mas harus terus berjuang melawan penyakitnya. Karena telat penanganan dan tidak mendapat donor darah, Mas meninggal dunia enam bulan kemudian.

Ibu kami baru bisa pulang tiga hari setelah Mas dimakamkan. Beliau juga terpukul karena sudah dua kali kehilangan orang yang disayangi, makanya kembali menitipkanku pada Tante Rina. Katanya Ibu akan kembali jika hatinya sudah membaik. Nyatanya, sampai saat ini Ibu tidak pernah kembali. Kalau boleh jujur, Ibu tidak seberharga itu di hidupku.

Agaknya aku juga begitu kehilangan, sampai tidak bisa menerima kepergian Mas. Dengan begitu, ingatanku pun berusaha melupakan keberadaan Mas. Jadi membuatku bertahan dengan pemikiran dari awal aku tidak punya siapa-siapa. 

Aku mengambil tas sekolah, mengeluarkan buku catatan Bimbingan Konseling. 

"Seandainya ini hari terakhir semua orang di dunia, tuliskan nama orang yang kamu inginkan berada di sisi kamu selama sisa waktu tersebut, beserta alasannya."

Akhirnya, aku bisa menuliskan sebuah jawaban. Jawabanku adalah Mas.

(Flori Rahmania/SMK Broadcast)