Obsesiku kepada dunia dongeng sudah sampai di level maniak. Aku selalu mengaitkan segala hal dengan dunia dongeng.
Minggu pertama aku masuk SMP, aku sudah bertingkah. Saat itu sekolahku ada kegiatan kerja bakti. Kelasku kedapatan tugas membersihkan taman sekolah. Aku memberitahu semua teman-temanku untuk berhati-hati dan tidak menginjak bunga-bunga. Barangkali disitu ada peri kecil yang tinggal. Semua teman-temanku tertawa. Sejak saat itu mereka selalu meledekku dengan sebutan Peri Sihir.
Aku tidak menghiraukannya. Masih untung mereka tidak menyematkan panggilan Kakak Tiri untukku. Atau mungkin mereka hanya tidak tahu, namaku diambil dari salah satu peran kakak tiri di film Cinderella.
Satu hari, para anak laki-laki menakutiku kalau ada kecoa raksasa di toilet sekolah. Aku memarahi mereka untuk jangan berbohong kalau tidak ingin hidungnya menjadi panjang seperti Pinokio.
"Kayaknya palang di sudut sekolah itu pintu menuju dunia dongeng."
Terdengar helaan napas panjang di sebelahku. "Kayaknya, otakmu bentuknya bola ramalan milik nenek sihir."
Aku tidak tersinggung sama sekali, justru tersenyum senang menanggapi ucapan Nura.
"Kalau kayak gini terus nggak akan ada yang mau menjadi temanmu."
"Kamu mau," ucapku sambil mengunyah roti bakar.
Nura melirik roti bakarnya dengan tatapan pasrah sebelum memakannya juga. "Yah, untungnya kamu banyak duit buat mentraktirku."
Pulang sekolah, aku berniat mampir ke toko aksesori untuk membeli gantungan tas Snow White yang sudah lama kuincar. Aku melompat-lompat pelan di sepanjang jalan layaknya seorang Putri kerajaan di taman penuh bunga. Nyatanya, aku berjalan di pinggir jalan raya yang padat kendaraan. Tidak ada harum bunga, yang ada hanya bau asap polusi.
Tapi suasana hatiku masih senang saja sampai saat sebuah air tiba-tiba menyembur wajahku. Di depan pintu toko yang tampak tua, berdiri seorang nenek yang tak kalah tuanya. Di tangannya ada ember kosong—karena airnya sudah mendarat di wajahku.
Si Nenek dengan khawatir menghampiriku. Aku yang awalnya ingin marah pun urung kulakukan melihat betapa ringkih tubuh Si Nenek.
Si Nenek mengajakku masuk ke tokonya. Memberikanku handuk untuk mengeringkan rambut serta menyediakan secangkir teh hangat. Berbeda dengan tampak luarnya, di dalam toko Si Nenek luar biasa bagusnya. Memang sih masih terkesan antik, tapi pemilihan warna yang lembut membuat toko ini terlihat elegan.
Aku dan Si Nenek menghabiskan sepanjang sore dengan mengobrol. Kuceritakan semua tentang obsesiku pada dunia dongeng.
"Aku juga suka tentang hal yang berbau dongeng," kata Si Nenek. Mataku berbinar mendengarnya. "Aku selalu bermimpi bisa jadi seperti Ibu Peri di Cinderella. Walaupun aku lebih cocok jadi tukang masak kerajaan."
Dengan hidung yang amat mancung, serta bintik-bintik di sekitar wajah, hampir kukira Si Nenek itu Penyihir jahat yang gemar bermain ilmu hitam. Tapi perkiraanku terbantahkan karena Si Nenek mengenakan gamis panjang dan kerudung. Penyihir tidak ada yang taat agama, 'kan?
Mulai dari hari itu, sepulang sekolah aku selalu mampir ke toko Si Nenek. Sekedar merecokinya tentang buku yang baru Papa belikan ataupun mengeluh tentang teman sekelasku yang makin sebal padaku. Tapi Si Nenek tetap menyambutku. Ia bahkan selalu menyediakan kukis dan teh hangat di setiap kunjunganku.
"Radit menyebutku melantur saat aku bilang bisa saja di Pantai Ancol ada Putri Duyung."
"Memang melantur. Dugong pun belum tentu ada disana."
Aku cemberut, berusaha marah pada Si Nenek. Walaupun begitu aku tetap mengambil kukisnya dengan serakah. Si Nenek hanya menggelengkan kepala.
"Anak seusiamu memang punya khayalan yang tinggi. Tapi itu bagus untuk melatih kreativitas."
Aku mengangguk-angguk mendengar ucapan Si Nenek—sudah sepenuhnya lupa bahwa tadi aku kesal padanya. "Daripada nonton sinetron cinta setiap hari. Negeri dongeng seribu kali lebih bagus."
"Antasida."
"Anastasia." Aku membetulkan ucapan Si Nenek yang selalu salah menyebutkan namaku. "Aca saja, teman-temanku juga selalu panggil begitu."
"Yah, itulah. Aca, apa kamu suka lagu dangdut koplo?"
Kugelengkan kepala kuat-kuat. "Aku lebih suka musik santai seperti orkestra. Lagu dangdut koplo begitu menurutku norak. Mirip lagu yang sering diputar di angkutan umum."
Si Nenek memukul lututku. Tentu saja aku kaget. Rasanya sama seperti Oma memarahiku saat aku ketahuan jajan minuman berwarna di pinggir jalan.
"Tidak salah kalau kamu suka segalanya tentang dunia dongeng. Tidak salah kalau kamu menceritakan semua obsesimu pada temanmu. Tapi, kamu salah kalau selalu menjelekkan selera orang lain. Enggak semua anak beruntung sepertimu dapat menyukai hal berkelas seperti boneka Putri Kerajaan seharga ratusan ribu."
Semua ucapan Si Nenek menetap di kepalaku. Sepanjang jalan pulang aku memikirkannya. Mungkin teman-temanku kadang menyebalkan karena selalu meledek kesukaanku pada dunia dongeng. Tapi aku tak kalah menyebalkan saat menjelekkan video editan milik Radit. Aku mengatakan videonya membuatku pusing karena transisinya yang terlalu terang. Belum lagi aku pernah menyebut lagu DJ yang menjadi favorit teman sekelasku alay.
Kalau ingin dihargai, cobalah menghargai orang lain terlebih dahulu. Itu yang Si Nenek katakan tepat sebelum aku keluar dari tokonya.
Besoknya di sekolah, aku meminta maaf pada Radit dan sebagian temanku yang lain. Aku mulai berbaur dengan semua orang di kelas, lebih sering menanyakan apa yang sekiranya sedang tren belakangan ini. Temanku sekarang bukan hanya Nura. Tapi Nura tetap jadi pelarianku di saat aku baru saja menamatkan film atau bacaan baru. Hanya dia yang betah mendengar semua ceritaku.
Mama sangat bahagia saat aku membawa beberapa teman untuk kerja kelompok di rumah. Raut wajahnya menunjukkan kelegaan. Barangkali bersyukur kini anaknya punya teman mengobrol selain teko antik sendok di dapur.
Jangan salahkan aku. Salahkan Papa yang membelikanku kaset film Beauty and The Beast, aku terinspirasi untuk mengobrol dengan perabotan setelah menonton Putri Belle. Dipikir lagi, sepertinya akan horor jika tiba-tiba teko antik itu mempunyai mata serta mulut dan mulai membalas ucapanku.
Omong-omong soal barang antik, aku jadi teringat Si Nenek yang tak kalah antiknya. Sejak akrab dengan teman sekelas, aku jadi jarang mengunjunginya. Maka kuputuskan untuk mengajak Nura ke toko Si Nenek saat hari libur.
"Enggak ada toko antik di sekitar sini, Neng. Toko itu memang sudah lama kosong. Daerah sini memang sepi pembeli."
Aku hanya bisa melongo mendengarkan penjelasan Paman pemilik toko roti. Jelas-jelas aku selalu mengunjungi tempat ini sebulam belakangan. Di seberang toko roti ini ada toko barang antik milik Si Nenek yang sempat menyiram air ke wajahku.
"Memang siapa nama pemilik toko yang Neng cari? Barangkali dulu memang pernah jualan disini."
Sepanjang hari aku selalu mengobrol dengan Si Nenek, tapi aku tidak pernah menanyakan namanya.
"Ca, kamu berhalusinasi lagi?" tanya Nura dengan wajah lelahnya.
"Memang kapan aku berhalusinasi?"
"Setiap hari! Kamu bahkan pernah bilang ada lubang menuju dunia dongeng. Padahal itu galian buat kubur sampah!"
Baiklah, aku tidak bisa membantah hal itu. Tapi untuk hal lain, semuanya terasa nyata. Aku pernah menghabiskan waktu dengan Si Nenek.
"Aku nggak bohong, Ra. Pulang sekolah aku selalu mampir ke toko itu. Ada nenek-nenek yang selalu memberiku teh dan kukis."
"Tunggu, kamu bilang apa? Nenek-nenek?"
Oh, bahkan aku lupa ada Paman toko roti diantara aku dan Nura.
"Apa hidungnya mancung? Terus ada bintik-bintik di wajahnya?"
Aku mengangguk dengan semangat. Jantungku berdegup kencang. Aku yakin kali ini aku tidak berhalusinasi.
"Apa dia selalu pakai kerudung yang warnanya senada dengan gamis?"
Aku mengangguk lagi sembari tertawa. Mengingat memang begitu adanya Si Nenek. Jika gamisnya berwarna ungu terang, maka kerudungnya pun akan berwarna senada.
"Tapi nenek itu sudah meninggal empat tahun yang lalu. Dia orang terakhir yang memakai toko ini. Sejak saat itu tokonya nggak pernah ada yang pakai."
Senyumanku yang semula muncul, kini turun bersamaan dengan rasa kaget yang menghantam. Aku tidak tahu harus berekspresi bagaimana lagi.
Kalau begini judulnya aku bukan masuk dunia dongeng. Tapi dunia ghaib.
0 Komentar