Harga Sebuah Penyesalan
Raka adalah anak kelas 8 SMP yang terkenal bandel di sekolah. Ia suka membolos, bergaul dengan anak-anak yang lebih tua, dan selalu minta uang saku besar kepada orang tuanya. Setiap hari, Raka menuntut Rp50.000 dari ibunya.
"Bu, kasih uang lima puluh ribu! Kalau nggak, aku malu sama teman-teman!" teriaknya suatu pagi.
Ibunya, Bu Rina, hanya bisa menghela napas. "Raka, uang segitu banyak. Boleh nggak dikurangi?"
Raka langsung melotot. "Bu, jangan pelit! Kalau Ibu nggak kasih, aku nggak bakal pulang!"
Akhirnya, dengan berat hati, Bu Rina memberikan uang itu. Ia tahu pendapatan suaminya sebagai tukang ojek pas-pasan, tapi ia tak mau melihat anaknya marah-marah setiap pagi.
Raka pun terbiasa hidup dengan uang banyak. Ia mentraktir teman-temannya, membeli makanan mahal, dan bahkan bermain game online di warnet sehabis sekolah.
Suatu hari, saat musim hujan tiba, Raka mulai merasa tubuhnya lemas. Ia sering pusing, mual, dan badannya panas.
"Ah, paling besok juga sembuh," pikirnya.
Namun, esoknya, sakitnya semakin parah. Ia muntah-muntah dan tak kuat berdiri. Ibunya panik dan segera membawanya ke dokter.
Saat diperiksa, dokter berkata, "Anak Ibu terkena demam berdarah. Dia butuh perawatan intensif di rumah sakit."
Raka yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit mulai teringat sesuatu. Dalam demamnya, ia terbayang wajah ibunya yang sering menangis diam-diam setiap kali ia meminta uang.
Ia ingat betul saat pernah berkata kasar, "Ibu itu nggak berguna! Kerja aja nggak bisa, kasih uang aja susah!"
Matanya berkaca-kaca. Dalam hatinya, ia menyesal. Saat itu, ia hanya memikirkan kesenangannya sendiri, tanpa peduli bagaimana orang tuanya berjuang mencari nafkah.
Ketika ia sadar, ia melihat ibunya duduk di sampingnya, menggenggam tangannya dengan wajah cemas.
"Bu..." suara Raka lemah. "Maaf..."
Bu Rina tersenyum tipis. "Yang penting kamu sembuh dulu, Nak."
Sejak saat itu, Raka berubah. Ia mulai menghargai orang tuanya dan tidak lagi memaksa uang saku besar. Baginya, kesehatan dan kasih sayang keluarga jauh lebih berharga daripada uang lima puluh ribu per hari.
0 Komentar