Aku memasang ekspresi sedatar mungkin saat Bunda bilang akan menitipkanku di rumah Nenek selama tiga tahun.

"Buat apa, sih? Sekolah di Jakarta 'kan lebih bagus."

"Tapi akhlakmu yang nggak bagus kalau disini terus." Aku berdecak saat mendengar jawaban Ayah yang tentu saja ada di tim yang sama dengan Bunda. "Ayah bakal kirim uang bulanan, kamu harus gunakan sebaik mungkin. Enggak bisa minta lagi kalau sudah habis sebelum akhir bulan."

Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan uang. Nenek seribu kali lebih dermawan jika masalah uang, aku bisa meminta padanya kapan saja. Yang jadi masalahnya adalah, Nenek tinggal di perkampungan. Tempat yang sangat tidak cocok denganku.

"Terus aku sekolahnya bagaimana? Rumah Nenek jauh dari kota."

"Naik angkutan umum, dong. Kamu harus belajar mandiri."

Aku tidak mempunyai tenaga saat membawa tas beserta koperku menuju rumah Nenek. Bunda dan Ayah hanya menginap selama dua hari satu malam setelah memastikan pendaftaran sekolahku selesai. Lalu kembali ke Jakarta tanpa perpisahan yang mengharukan, seolah baru saja menitipkan barang bukan seorang anak manusia pada Nenek.

"Nanti malam pasti ayah kamu nangis," ucap Nenek. Aku tersenyum terpaksa, sangat tahu bahwa Nenek hanya mencoba membuatku senang.

"Ayah nanti malam pasti begadang nonton bola," balasku pelan. "Ayo, Nek. Aksa mau ke rumah aja, pengen tidur."

Setelah mengantar Bunda dan Ayah di depan gapura kampung, aku berjalan pulang tanpa menuntun Nenek. Nenekku tergolong amat kuat dan sehat untuk ukuran lansia. Kata Nenek, pengaruh dari gaya hidup berbeda antara orang kampung dan orang kota.

Tepat di depan gapura, aku berhenti sebentar. Membaca tulisan yang ada di dinding gapura tersebut.

'Selamat Datang di Kampung No.17'

Selain tidak suka hidup di tempat yang jauh dari kota, aku tidak suka dengan nama kampung ini. Kenapa kampungnya hanya diberi nama angka alih-alih nama yang keren?

Karena keasikan melamun, aku tidak sadar sebuah sendal terbang ke arah wajahku. Saat akan mencoba menghindar, sendal itu sudah menampar keras pipiku. Rasanya perih dan panas.

"Kan aku bilang lemparnya jangan kejauhan!"

"Siapa suruh nggak ditangkap?!"

Aku menggeram kesal kepada anak perempuan dan anak laki-laki. Mereka malah asik ribut daripada meminta maaf padaku. Apa anak di kampung kecil tidak punya sopan santun?

"Cantika! Kinan! Ini cucu Nenek, coba diajak main."

"Nek, gausah," ucapku. "Aksa juga udah mau SMA, nggak suka main lempar-lempar sendal begitu."

"Udah gapapa, mereka juga seumuran kamu, kok."

Nenek terus memaksaku menghampiri mereka. Kedua anak itu mengobrol dengan Nenek sebentar, memasang wajah ramah sehebat mungkin. Karena saat Nenek sudah pergi, ekspresi anak nakal mereka sangat kental. Menyebalkan melihat mereka tertawa seperti tidak mengingat pernah melempar sendal ke arahku. 

Aku tidak tahan bersama mereka dalam waktu yang lama. Mereka terus mengatakan hal-hal seperti, Anak kota, ya? Pantesan kulitnya putih pucat begitu. Pasti takut keluar rumah, kalah sama kucingku, atau, Lihat, nggak tadi dia mau menangis gara-gara wajahnya kena sendal?  Dulu kepalaku berdarah dilempar batu masih bisa main layang-layangan.

Sialnya, aku satu sekolah dan satu kelas dengan dua anak bandel itu. Atas inisiatif Nenek agar aku punya teman, Nenek selalu mencoba segala hal agar aku dekat dengan mereka.

Awalnya hanya menjemputku untuk berangkat sekolah bersama, lama-lama mereka sudah ikut sarapan bersamaku dan Nenek. Saat aku selesai mandi, dua anak itu sudah siap di meja makan kami. Saat aku pulang sekolah, aku juga tidak bisa beristirahat. Anak kampung itu terus-terusan mampir untuk menonton TV.

"Bullying itu apa, sih?" 

"Mungkin semacam permainan lempar bola."

"Itu Bowling." Aku melempar Cantika dengan kulit kacang—karena dia asal-asalan menjawab pertanyaan Kinan.

"Bullying itu perundungan. Bullying itu bisa lewat omongan tidak baik, atau bahkan main fisik."

Cantika dan Kinan mengangguk-angguk mendengarkan penjelasanku. Pertanyaan mengenai Bullying ini terlintas karena kami sedang menonton film yang mengangkat tema tersebut.

"Kinan sering melakukan Bullying padaku. Dia bilang nama Cantika terlalu bagus buatku."

"Memang iya, kan?" Kinan bertanya sambil menatapku. Aku hanya mengangkat bahu, mencoba tak ikut serta dalam perdebatan mereka. "Lagian, kamu lebih parah. Kalau bulan puasa, habis tarawih, sendalku dilempar ke atap masjid!"

"Kamu duluan menakutiku kalau di dalam bedug masjid ada genderuwo!" seru Cantika tidak terima.

Tanpa sadar, aku tertawa mendengar cerita mereka. Sebenarnya, selain tidak mau diam dan cerewet, dua anak itu teman yang baik. Kadang aku terganggu dengan suara Kinan yang tergolong cempreng untuk ukuran laki-laki, tapi dia yang selalu membantu jika aku kesulitan berbaur di kampung. Cantika mungkin tidak bisa menjaga omongannya—dia pernah bilang aku terlalu penakut untuk ukuran laki-laki—tapi dia sosok yang setia kawan. Walaupun tanpa dia sadari, Cantika tidak pernah memberiku celah untuk merasa kesepian di kampung. Hanya dia yang rela menemaniku ke puskesmas saat aku sedang sakit. Nenek tidak bisa menemaniku karena sakit punggungnya juga kambuh saat itu.

Cantika dan Kinan juga selalu membanggakan diriku pada teman-temannya. Katanya, "Kita sekarang punya teman pintar dan serba bisa, lho."

Hal itu tak pernah bisa aku dapatkan saat di kota.

Setelah lima bulan aku tinggal di kampung, Bunda dan Ayah datang mengunjungiku. Aku tidak tahu benar atau tidak, tapi Bunda bilang Ayah yang bersikeras untuk mengunjungiku. Padahal Bunda berencana melakukannya saat aku sudah satu tahun tinggal di kampung.

Sore harinya, aku dan Ayah bersantai bersama di teras rumah Nenek sambil minum teh. Bunda dan Nenek sedang bersiap membuat makan malam, tentu saja dua temanku tetap datang. Saat kukira mereka akan malu saat ada orangtuaku, justru mereka langsung meluncur ke rumah Nenek. Tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk akrab dengan orangtuaku.

"Kata Nenek, kamu bahagia tinggal disini."

"Lumayan." Aku melongok ke dalam rumah karena mendengar seruan Kinan sedang menonton Naruto. Duh, aku mau ikutan juga. "Tapi di kota masih jauh lebih baik. Dekat kemana-mana."

"Di kota jauh dari sawah, perkebunan, bahkan sumber air. Disini jauh lebih tenang."

Baiklah, aku tidak bisa menyangkal itu.

"Kemarin Dion ke rumah, cari kamu katanya mau minta maaf."

Aku menegakkan tubuhku mendengar nama itu. Suara Cantika yang meminta mengganti channel televisi sudah tidak terdengar di telingaku.

"Jadi Ayah harus jawab gimana?"

Bagaimana, ya? Aku juga tidak tahu. Apa aku bisa memaafkan orang yang membuat waktu terakhirku di sekolah SMP jadi tidak menyenangkan?

Saat di kota, aku punya banyak teman. Aku akrab dengan seluruh orang di kelas. Dan teman dekatku adalah Dion. Kami bahkan disebut Si Kembar karena kemana-mana selalu bersama. Tapi saat Ujian Nasional, aku menolak memberikan contekan pada Dion. Karena kupikir ini masa penting untuk menentukan langkah kita selanjutnya setelah lulus dari SMP, tidak baik untuk mencontek. Dion tidak terima, ia menyebarkan fitnah kalau aku sering membicarakan hal jelek tentang teman sekelas. Aku tidak bisa melawan orang yang jago bermulut manis seperti Dion. Menjelang perpisahan, semua orang menjauhiku. Bahkan aku pulang duluan saat wisuda.

Hal itu yang membuat Bunda ingin menitipkanku di kampung Nenek.

"Bilang aja, aku sudah melupakan semuanya."

"Kamu yakin?"

Aku mencoba memasang senyum terbaikku. Walaupun masih ada rasa sakit hati, tapi aku sudah menemukan kebahagiaan lain. "Yakin, kok."

Karena besoknya hari libur, aku mengantar Bunda dan Ayah sampai depan gapura kampung. Cantika dan Kinan ikut bersamaku padahal mereka belum mandi.

"Ingat, nggak? Waktu itu, kita pertama bertemu karena nggak sengaja melempar sendal ke arahmu, Sa."

Aku memasang wajah datar mendengar ucapan Cantika. Bagaimana aku bisa melupakan itu? Pertemuan pertama yang amat menyebalkan.

Aku kembali memandangi gapura di depanku, masih tidak paham konsep dari nama kampung ini.

"Kenapa, sih, nama kampungnya harus 17?"

"Karena itu hari kemerdekaan Indonesia."

Aku menatap Kinan, mencoba mencari ekspresi bercanda dari wajahnya. Tapi anak itu amat serius. Aku menghela napas kasar. "Aneh banget, masa gara-gara itu aja?"

"Terus kan ini RT.19 dan RW.45. Kalau digabung jadi tanggal 17 tahun 1945," jawab Cantika.

"Enggak jelas banget!"

Sama seperti filosofi namanya, warga di kampung ini juga sangat tidak jelas. Seperti dua anak yang sedang tertawa saling memukul—walaupun malu, harus kuakui mereka temanku.

"Aksa," nada bicara Cantika tiba-tiba sangat serius. Kinan juga sudah berhenti tertawa. Aku tidak pernah melihat mereka seperti ini. "Kami dengar, soal kejadian di sekolahmu dulu. Berarti kamu dulu dirundung, ya?"

Ternyata mereka mengkhawatirkan itu?

Aku tersenyum sambil kembali memandangi tulisan di dinding gapura. 

'Selamat Datang di Kampung No.17'

"Enggak usah dipikirkan. Aku udah bahagia di kampung ini."