Raka hanyalah seorang siswa biasa di SMA Harapan Jaya. Nilainya tidak selalu yang terbaik, ia bukan bintang kelas, dan juga bukan atlet sekolah yang populer. Namun, satu hal yang membedakannya dari teman-temannya adalah mimpinya yang besar.
Sejak kecil, Raka bercita-cita menjadi seorang insinyur. Ia ingin membangun jembatan dan gedung tinggi di kotanya, memberikan manfaat bagi banyak orang. Sayangnya, kondisi keluarganya yang sederhana sering membuatnya merasa kecil hati. Ayahnya hanya seorang tukang bangunan, sementara ibunya berjualan nasi uduk di depan rumah.
Meski begitu, Raka tidak pernah menyerah. Ia percaya bahwa kerja keras dapat mengalahkan segalanya.
Setiap hari, Raka berangkat ke sekolah lebih awal dan pulang lebih lambat. Di sekolah, ia selalu duduk di bangku depan, mencatat dengan tekun setiap pelajaran yang diajarkan. Ketika teman-temannya sibuk bermain, ia memilih untuk mengulang pelajaran di perpustakaan.
Namun, perjuangan Raka tidak selalu mudah. Kadang-kadang, ia diejek oleh teman-temannya.
"Belajar terus, Rak! Santai aja, kayak kita!" kata Reno, teman sekelasnya yang suka bermain game.
Raka hanya tersenyum. Ia tahu bahwa jalan menuju kesuksesan memang tidak mudah.
Suatu hari, sekolah mengumumkan adanya lomba matematika tingkat nasional. Guru-guru mendorong para siswa untuk ikut serta. Awalnya, Raka ragu. Ia tahu ada banyak siswa yang lebih pintar darinya. Tapi dalam hatinya, ia ingin mencoba.
Dengan tekad bulat, Raka mendaftar. Setiap malam, ia belajar lebih giat, mengerjakan soal-soal sulit, dan bahkan meminta bantuan gurunya untuk memahami materi yang belum ia kuasai.
Saat hari perlombaan tiba, ia merasa gugup. Namun, ia berusaha semaksimal mungkin.
Beberapa minggu kemudian, hasil lomba diumumkan. Raka hampir tidak percaya saat namanya disebut sebagai juara pertama!
Seluruh kelas bersorak. Teman-teman yang dulu meremehkannya kini memandangnya dengan kagum. Bahkan Reno, yang dulu sering mengejeknya, menepuk bahunya dengan bangga.
"Gila, Rak! Lo keren banget!" katanya.
Kemenangan itu membuka banyak pintu bagi Raka. Ia mendapat beasiswa untuk kuliah di universitas impiannya.
Saat berdiri di depan sekolahnya, ia tersenyum. Dulu ia hanyalah anak biasa. Namun dengan usaha, kesabaran, dan keyakinan, ia membuktikan bahwa siapa pun bisa sukses.
Karena kesuksesan bukanlah milik mereka yang berbakat sejak lahir, tetapi milik mereka yang tidak pernah berhenti berusaha.
(Siti Mulyaningsih/SMK Broadcast)
0 Komentar