Hari ini di kelasku kedatangan murid baru. Namun, ada yang aneh dari murid baru tersebut. Saat diminta untuk memperkenalkan diri, ia tidak berbicara apapun. Murid baru tersebut malah menuliskan namanya di papan tulis.

   Namanya Kia. Guruku bilang, Kia tunawicara alias bisu. Jika ingin menyampaikan sesuatu, Kia akan menuliskannya di buku catatan kecil yang selalu ia bawa kemanapun. 

   Kia orang yang hebat menurutku. Dia selalu ramah kepada semua orang dan mencoba akrab walaupun sering diabaikan. Aku jadi bingung. Kenapa orang yang memiliki kekurangan sepertinya malah dijauhi?

   Ada satu lagi hal yang aku kagumi dari Kia. Ia sangat gemar membantu semua orang yang menurutnya perlu dibantu. Misalnya, membantu petugas kebersihan di sekolah membuang sampah atau membantu adik kelas mengerjakan tugas.

   Pernah suatu hari, di perjalanan pulang sekolah aku melihat Kia mencoba membantu seorang lansia menyebrang. Kia masih mengenakan seragam sekolah, artinya ia belum pulang ke rumah. Saat sudah berhasil menyebrang, lansia tersebut berterimakasih kepada Kia yang hanya membalasnya dengan anggukan.

   Besoknya, aku mendapati Kia sudah sapu-sapu di kelas pagi-pagi sekali. Padahal ini bukan jadwalnya piket. Aku yang memang kedapatan jadwal piket hari ini, merasa tertohok oleh sikap Kia. 

   "Biar aku saja," ucapku sambil mengambil alih sapu dari Kia. Meskipun agak kaget dengan pergerakanku yang tiba-tiba, Kia tetap tersenyum.

   "Kenapa, sih, kamu suka sekali membantu orang atau hal yang sebenarnya bukan tanggung jawabmu?"

   Entah kenapa, pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulutku. Kia diam sebentar. Lalu tak lama ia mengambil buku catatan kecil dari sakunya dan segera menulis. 

   Kia menulis lumayan lama. Setelah selesai, ia menunjukkan tulisannya kepadaku. Isinya:
'Aku memang memiliki kekurangan. Tapi aku tidak pernah mau dikasihani oleh orang-orang. Aku mau menunjukkan, bahwa dengan kekurangan pun aku bisa membantu. Karena, aku selalu mensyukuri apa yang aku punya.'

   Aku terdiam setelah membaca tulisan Kia. Merasa tertampar, dengan keadaan diriku yang tidak kurang apapun, tapi aku jarang membantu sekitarku. Malah, kebanyakan yang kulakukan hanya mengeluh.

   Hari ini, walaupun tanpa suara, hanya dengan tulisan Kia mampu menyadarkanku. Suaranya seolah tertuang langsung dalam tulisan.